22 Maret 2008 / Sabtu
Rafting di Progo Bawah
Semalaman sebenarnya udah gak tenang.. karena mau rafting di Kali Progo Bawah ini. Kali Progo itu ada dua, yang Progo Atas gradenya II-III, Progo Bawah gradenya IV - V, konon kata orang2 terbesar di Jawa Bali (?!). Dan katanya pula kemarin ini sudah IV+. Yang turun kesitu harus yang sudah advance/expert. I am very far from being expert hehehe.. tapi karena dah pernah turun di kelas Citarik or Serayu (grade III-IV), jadi bisa lolos. Operator rafting pun gak bisa sembarang meng-iya-kan orang yang mau turun ke Progo Bawah.
Jumat malam katanya ketinggian air sempat 150, karena hujan deras. Berkali-kali berdoa semoga air gak surut-surut jadi kami semua batal turun ke Progo huahahaha. *setan*. Tapi sayang doa tidak dikabulkan. Pagi itu tinggi air 80 dan matahari bersinar dengan teriknya. Hiks.... jadi tambah sakit perut plus deg2an.
Jam 9, aku, Bayu, Ucup, Harti, Atik, Mas Totok dan Mas Klowor (dari Yogya Adventure) mulai mengarungi Progo Bawah. Formasi: Ucup & Mas Klowor di depan. Deretan dua Bayu dan Harti, deretan tiga aku dan Atik, dan Mas Totok sebagai skipper.
Di Progo Bawah ini ada dua maskot, namanya Selamat Datang dan Budil. Artinya dua jeram ini tingkat kesulitannya tinggi.
Jadi begitu masuk Progo, masih flat, dan sekitar 50m kemudian masuklah kami ke jeram Selamat Datang ini. Karena gak ikut para lelaki itu scoutting dulu, aku sama sekali gak punya gambaran seperti apa jeram Selamat Datang ini. Jadi pas mulai dayung kesana, hati ini masih tenang2. Tapi begitu sampai depan jeram.. Astagfirullah..... edan!!! Jantung rasanya pindah ke perut. Tapi Alhamdulillah.... kita berhasil melewati jeram Selamat Datang dengan selamat dan tanpa ada kejadian perahu terbalik. Setelah keluar dari jeram itu, harus dayung sekuat tenaga ke kanan untuk berhenti sebentar. Karena kalau bablas, kita langsung masuk jeram Budil.
Jeram Budil kayak apa sih?? Karena enasaran aku ikut para lelaki turun ke darat untuk scoutting. Bo... begitu lihat dari darat, aku langsung lemas selemas-lemasnya hahaha.... ternyata ada yang jauh lebih parah dari jeram Selamat Datang. hadoooh...... doanya semakin panjaaaaaaaaang buanget. Kalau tadi jantung pindah ke perut, sekarang udah pindah ke dengkul.
Jeram Budil ini diambil dari nama anak Wanadri, almarhum Budi L., yang meninggal disitu, kalau gak salah tahun 90-an saat Progo Bawah belum dibuka untuk umum. Tingkat kesulitannya tinggi. Sebelah kiri mainstream besar, ada undercut dan yang pasti kalau lewat situ dan terbalik lalu masuk undercut, ya sudah.. tergantung kuasa Tuhan... bisa selamat bisa meninggal.
Diputuskan ambil jalur tengah, jadi bisa lurus bablas gak ngelewatin mainstream. Awal2 sudah berhasil.. eh entah gimana perahu kami miring hampir 90%. Yang ada di otak saat itu.. yaaaaah.... mati deh! Perahu sempat dalam posisi miring itu cukup lama, jadi mandeg aja. Karena beban (baca: yang badannya besar2 dah jatuh ke sisi kanan), terbaliklah perahu kami dengan manis tepat di samping mainstream. Ucup terlempar ke kanan. Aku Bayu Harti kejebak di bawah perahu. Atik gak jelas. Waduh, bisa mati kalau kejebak dibawah perahu. Ambil napas, nyelam lagi, maksudnya mau keluar ke sisi kanan, tapi malah ketarik arus sebelah kiri. Gak tau deh gelap banget... muncul2 dah di tengah kebawa arus. Ternyata Atik sudah hanyut depanku. Gak lama Mas Klowor muncul untuk bantu kita berdua.
Hadooooh... baru kali ini aku ngerasain rasanya mau mati. Arusnya deras banget dan aku terseret 100 m lebih. aku berusaha ke pinggir tempat datar bukan ke tebing tapi arus terlalu besar.... yang ada malah keseret ke arah tebing kanan. Tambah gak karuan lagi rasanya, karena aku takut di tebing kanan ada undercut juga. Alhamdulillah, berhasil berenang melewati tebing dengan sekuat tenaga sampai akhirnya lemas benar2 lemas. Padahal 10 meter lagi udah tempat aman, tapi gue dah gak sanggup lagi berenang. Jadi gue kena arus putar aja tuh, badan muter2 aja ngikutin arus. Setelah kumpulin tenaga, gue berenang ngelawan arus ke arah tepi kanan, dapat pegangan rumput sama ada pijakan kecil. Jadilah spiderwoman, nempel di tebing. Terpaksa diam dulu disitu sampai Mas Klowor dan rescue datang, lalu aku ditarik pake tali. Atik sudah selamat sampai di tepi. Yang pasti.. begitu sampai pinggir, aku belum pernah sendawa sebesar dan sepanjang itu... hahaha.... entah berapa liter air kali yang sudah terminum.
Lagi enak2nya ngumpulin nyalai.. eee dari jauh ada perahu datang dengan kepala2 kecil yang timbul tenggelam. Ternyata para anak mapala yang hanyut. Parahnya, perahu mereka sudah terbalik dari Selamat Datang dan bablas ke Budil. Jadi judulnya, mereka renang jeram, bukan rafting.
Selama rafting, baru kali ini ngalamin perahu kebalik dan hanyut, di Budil pula! Ampyun.... gak mau lagi. Begitu sampai darat, aku sempat bilang.. Ok I’m done.. gak mau lagi lanjut. Tapi setelah pikir2.. yah... sayang.. jauh2 hanyut di Progo Bawah, setidaknya aku harus sampai finish. Setelah istirahat sebentar, ngumpulin nyawa, kita lanjut lagi. Kali ini posisi skipper digantikan Mas Hadi, Mas Totok harus istirahat karena mau bawa tamu ke sungai Elo hehe....
Setelah Budil, ada dam. Kita harus lewat kanan dam itu yang arusnya mirip dengan jeram Selamat Datang. Arusnya besar sekali dan menghantam ke kanan. Perahu sempat mutar 360 derajat. Alhamdulillah.. lolos... hehehe... Tapi belum juga napas, Jeram Panjang sudah menanti. Panjangnya 400 m dan isinya standing waves tinggiiiiii semua. Seru banget...tapi muka ku udah pucat blas. Kata Harti, sudah putih semua. Yang ada mau dayung, tapi yang kena bukan air, malah udara hehehe... saking takutnya jadi pegangan kencang2. dan yang pasti teriak2 gak keruan. Maaf ya Mas Hadi aku teriakin hehehehe... Dan aku menolak keras waktu ada standing waves paling tinggi mau diambil. No way busway!
Setelah lewat dari Jeram Panjang, masih ada jeram lagi tapi nggak seheboh sebelum2nya. Dan gak jauh dari situ finish! Kami semua selamat.. berhasil menaklukkan Progo Bawah. Walau gak sempurna (baca: tanpa perahu terbalik), tapi cukup lah.
Kalau aku punya 10 jempol, aku acungin semuanya untuk Progo Bawah. Semua sensasi ada disitu.. takut, seru, nekad... campur aduk. Yang sudah pernah rafting di Citarik, Pekalen or Serayu, pasti akan ngerasa, semua sungai itu gak ada apa2nya dibanding Progo Bawah. Kalau ditanya, mau balik lagi gak ke Progo Bawah... mungkiiiiiiin mau, tapi tidak secepatnya hahaha... perlu ngumpulin 9 nyawa dulu. Cukup lah untuk sementara ini yang kemarin.
Cukuuuuuup......