Aku bukanlah Superman Bukan Spiderman Tapi di perut istriku ada Super Hero kecil Dia akan menjadi penolong ku nanti disaat ku sedih Penolongku disaat aku merasa kesepian Apakah dia seorang Wonder Woman... ? Ataukah Superman.... ? Aku tidak tahu.. Tapi yang ku yakini, dia akan menjadi Super Hero ku.. Kapan dia datang ? Ayah Super Hero
22 Maret 2008 / Sabtu Rafting di Progo Bawah Semalaman sebenarnya udah gak tenang.. karena mau rafting di Kali Progo Bawah ini. Kali Progo itu ada dua, yang Progo Atas gradenya II-III, Progo Bawah gradenya IV - V, konon kata orang2 terbesar di Jawa Bali (?!). Dan katanya pula kemarin ini sudah IV+. Yang turun kesitu harus yang sudah advance/expert. I am very far from being expert hehehe.. tapi karena dah pernah turun di kelas Citarik or Serayu (grade III-IV), jadi bisa lolos. Operator rafting pun gak bisa sembarang meng-iya-kan orang yang mau turun ke Progo Bawah. Jumat malam katanya ketinggian air sempat 150, karena hujan deras. Berkali-kali berdoa semoga air gak surut-surut jadi kami semua batal turun ke Progo huahahaha. *setan*. Tapi sayang doa tidak dikabulkan. Pagi itu tinggi air 80 dan matahari bersinar dengan teriknya. Hiks.... jadi tambah sakit perut plus deg2an. Jam 9, aku, Bayu, Ucup, Harti, Atik, Mas Totok dan Mas Klowor (dari Yogya Adventure) mulai mengarungi Progo Bawah. Formasi: Ucup & Mas Klowor di depan. Deretan dua Bayu dan Harti, deretan tiga aku dan Atik, dan Mas Totok sebagai skipper. Di Progo Bawah ini ada dua maskot, namanya Selamat Datang dan Budil. Artinya dua jeram ini tingkat kesulitannya tinggi. Jadi begitu masuk Progo, masih flat, dan sekitar 50m kemudian masuklah kami ke jeram Selamat Datang ini. Karena gak ikut para lelaki itu scoutting dulu, aku sama sekali gak punya gambaran seperti apa jeram Selamat Datang ini. Jadi pas mulai dayung kesana, hati ini masih tenang2. Tapi begitu sampai depan jeram.. Astagfirullah..... edan!!! Jantung rasanya pindah ke perut. Tapi Alhamdulillah.... kita berhasil melewati jeram Selamat Datang dengan selamat dan tanpa ada kejadian perahu terbalik. Setelah keluar dari jeram itu, harus dayung sekuat tenaga ke kanan untuk berhenti sebentar. Karena kalau bablas, kita langsung masuk jeram Budil. Jeram Budil kayak apa sih?? Karena enasaran aku ikut para lelaki turun ke darat untuk scoutting. Bo... begitu lihat dari darat, aku langsung lemas selemas-lemasnya hahaha.... ternyata ada yang jauh lebih parah dari jeram Selamat Datang. hadoooh...... doanya semakin panjaaaaaaaaang buanget. Kalau tadi jantung pindah ke perut, sekarang udah pindah ke dengkul. Jeram Budil ini diambil dari nama anak Wanadri, almarhum Budi L., yang meninggal disitu, kalau gak salah tahun 90-an saat Progo Bawah belum dibuka untuk umum. Tingkat kesulitannya tinggi. Sebelah kiri mainstream besar, ada undercut dan yang pasti kalau lewat situ dan terbalik lalu masuk undercut, ya sudah.. tergantung kuasa Tuhan... bisa selamat bisa meninggal. Diputuskan ambil jalur tengah, jadi bisa lurus bablas gak ngelewatin mainstream. Awal2 sudah berhasil.. eh entah gimana perahu kami miring hampir 90%. Yang ada di otak saat itu.. yaaaaah.... mati deh! Perahu sempat dalam posisi miring itu cukup lama, jadi mandeg aja. Karena beban (baca: yang badannya besar2 dah jatuh ke sisi kanan), terbaliklah perahu kami dengan manis tepat di samping mainstream. Ucup terlempar ke kanan. Aku Bayu Harti kejebak di bawah perahu. Atik gak jelas. Waduh, bisa mati kalau kejebak dibawah perahu. Ambil napas, nyelam lagi, maksudnya mau keluar ke sisi kanan, tapi malah ketarik arus sebelah kiri. Gak tau deh gelap banget... muncul2 dah di tengah kebawa arus. Ternyata Atik sudah hanyut depanku. Gak lama Mas Klowor muncul untuk bantu kita berdua. Hadooooh... baru kali ini aku ngerasain rasanya mau mati. Arusnya deras banget dan aku terseret 100 m lebih. aku berusaha ke pinggir tempat datar bukan ke tebing tapi arus terlalu besar.... yang ada malah keseret ke arah tebing kanan. Tambah gak karuan lagi rasanya, karena aku takut di tebing kanan ada undercut juga. Alhamdulillah, berhasil berenang melewati tebing dengan sekuat tenaga sampai akhirnya lemas benar2 lemas. Padahal 10 meter lagi udah tempat aman, tapi gue dah gak sanggup lagi berenang. Jadi gue kena arus putar aja tuh, badan muter2 aja ngikutin arus. Setelah kumpulin tenaga, gue berenang ngelawan arus ke arah tepi kanan, dapat pegangan rumput sama ada pijakan kecil. Jadilah spiderwoman, nempel di tebing. Terpaksa diam dulu disitu sampai Mas Klowor dan rescue datang, lalu aku ditarik pake tali. Atik sudah selamat sampai di tepi. Yang pasti.. begitu sampai pinggir, aku belum pernah sendawa sebesar dan sepanjang itu... hahaha.... entah berapa liter air kali yang sudah terminum.
Lagi enak2nya ngumpulin nyalai.. eee dari jauh ada perahu datang dengan kepala2 kecil yang timbul tenggelam. Ternyata para anak mapala yang hanyut. Parahnya, perahu mereka sudah terbalik dari Selamat Datang dan bablas ke Budil. Jadi judulnya, mereka renang jeram, bukan rafting. Selama rafting, baru kali ini ngalamin perahu kebalik dan hanyut, di Budil pula! Ampyun.... gak mau lagi. Begitu sampai darat, aku sempat bilang.. Ok I’m done.. gak mau lagi lanjut. Tapi setelah pikir2.. yah... sayang.. jauh2 hanyut di Progo Bawah, setidaknya aku harus sampai finish. Setelah istirahat sebentar, ngumpulin nyawa, kita lanjut lagi. Kali ini posisi skipper digantikan Mas Hadi, Mas Totok harus istirahat karena mau bawa tamu ke sungai Elo hehe.... Setelah Budil, ada dam. Kita harus lewat kanan dam itu yang arusnya mirip dengan jeram Selamat Datang. Arusnya besar sekali dan menghantam ke kanan. Perahu sempat mutar 360 derajat. Alhamdulillah.. lolos... hehehe... Tapi belum juga napas, Jeram Panjang sudah menanti. Panjangnya 400 m dan isinya standing waves tinggiiiiii semua. Seru banget...tapi muka ku udah pucat blas. Kata Harti, sudah putih semua. Yang ada mau dayung, tapi yang kena bukan air, malah udara hehehe... saking takutnya jadi pegangan kencang2. dan yang pasti teriak2 gak keruan. Maaf ya Mas Hadi aku teriakin hehehehe... Dan aku menolak keras waktu ada standing waves paling tinggi mau diambil. No way busway! Setelah lewat dari Jeram Panjang, masih ada jeram lagi tapi nggak seheboh sebelum2nya. Dan gak jauh dari situ finish! Kami semua selamat.. berhasil menaklukkan Progo Bawah. Walau gak sempurna (baca: tanpa perahu terbalik), tapi cukup lah. Kalau aku punya 10 jempol, aku acungin semuanya untuk Progo Bawah. Semua sensasi ada disitu.. takut, seru, nekad... campur aduk. Yang sudah pernah rafting di Citarik, Pekalen or Serayu, pasti akan ngerasa, semua sungai itu gak ada apa2nya dibanding Progo Bawah. Kalau ditanya, mau balik lagi gak ke Progo Bawah... mungkiiiiiiin mau, tapi tidak secepatnya hahaha... perlu ngumpulin 9 nyawa dulu. Cukup lah untuk sementara ini yang kemarin. Cukuuuuuup......
Dita: “Pak Bot, long wiken akhir Maret kemana nih kita? Tanjung Puting yuuuk…” Bayu: “Yuuk… atur aja…” Ternyata setelah hitung menghitung, budget ke Tj. Puting gak nyampe hehehe.. akhirnya diputuskan ke Yogya lagi tapi kali ini sama Ucup (team dari Outpack) juga. 19 Maret 08 / Rabu So berangkatlah kita tanggal 19 Maret, Rabu pagi jam 7an menuju Yogya, naik mobil. Karena gak ada yang bisa nyetir, jadi pak supir cuma satu, Bayu thok hehe.. Alhamdulilah jalur selatan sepi.. gak banyak jalan rusak, paling cuma dari daerah Majenang sampai Cimanggu (JaTeng). Tujuan pertama adalah Dieng. Dieng Sampai Dieng jam 6.15an sore. Kabut sudah sangat tebal dan mulai hujan. Sampai Dieng, hal yang pertama dilakukan adl cari hotel. Begitu masuk kawasan Dieng, belok kanan, ada paling pojok Dieng Plateau Homestay (Taufik 0852 275 87 841). Kamarnya standard banget.. cuma ada satu bed besar, utk diisi 2 orang. Gak ada kamar mandi dalam, dan yang pasti gak ada air panas. Tarifnya 40 rb per malam. Sebelah Dieng Plateau Homestay, ada Losmen Bu Djono (Mas Didik 0852 2738 9949). Hadoooh... ini lebih parah lagi kondisi kamarnya, buat gue below standard. Sudah dipastikan gak akan stay disitu daripada gak nyaman. Kamar mereka yang ada kamar mandi dalam + air panas cuma ada 2 dengan tarif sekitar 70rb. Kalau kamar mandi luar (room only), sekitar 50 rb. Losmen Bu Djono ini ternyata losmen tua, sudah berdiri thn 1972. Bu Djono-nya sendiri sudah almarhumah. Sekarang yang meneruskan adalah anak laki2nya. Kelebihan losmen Bu Djono ini cuma satu: staff2nya ramah banget J Setelah tanya sana sini, kita dapat info bahwa biasanya turis lokal lebih suka menginap di Hotel Gunung Mas. Lokasinya sekitar 300 m dari losmen Bu Djono. Bangunan hotelnya tampak luar sih gak menunjukkan kalau itu hotel hahaha... tapi setelah cek kamar, ini the most decent hotel we could find in Dieng. Ada kamar mandi dalam plus air panas, kamar lumayan besar dan bersih. Yang pasti dapat sarapan. Total utk satu kamar (1 bed besar + 1 extra bed) Rp. 150rb. Jadilah kita nginep situ. Utk makan malam, kita recommend warung makan kecil di belakang Losmen Bu Djono persis (yg ternyata punya anaknya Bu Djono juga). Rasa makanannya not bad.. masuk lah sama lidah kita. Mie goreng jamur-nya enak. Harganya juga lumayan murah. 20 Maret 08 / Kamis Dieng Bangun pagi jam 5, rencananya mau lihat sunrise. Tapi telat karena matahari sudah keburu terbit. Tapi kita tetap pergi ke lokasi sunrise-nya, karena penasaran juga hehe... Lokasinya sekitar 5 km dari hotel, naik terus ke arah Telaga Cebong, melewati perkebunan dan satu perkampungan Dieng lagi. Jalannya sudah aspal tapi mendekati Telaga Cebong, hanya bisa dilalui 1 mobil. Mobil parkir di lapangan dekat Telaga Cebong, lalu dilanjutkan hiking ke tempat sunrise. Trek-nya agak ajaib ya. Jalurnya licin, dan masih jalur tanah. Kiri sudah jurang. Karena sandal gunung gue licin, gue cuma setengah jalan. Ucup aja yang lanjut ke puncaknya sendiri. Menurut Ucup, pemandangannya bagus banget. Setelah lihat lokasi sunrise, kita menuju Telaga Warna. Di area Telaga Warna ini ada juga obyek wisata lain.. namanya Telaga Pengilon (sebelah Telaga Warna persis) tapi lebih kecil, Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur (dimana gua2 ini biasanya dipakai untuk petilasan or semedi orang2 yang cari wangsit). Sayang waktu kita disana, Telaga Warna sedang tidak berwarna hijau bagus. Dari Telaga Warna kita menuju Kawang Sikidang. Sebelum ke Kawah Sikidang, ada Candi Bima. Candinya kecil dan cuma satu. Jarak dari Candi Bima ke Kawah Sikidang sekitar 1 km. Kawang Sikidang diameternya kecil (gak sampai 50m), bau belerang (tapi tidak menyengat), dan yang pasti isinya lumpur panas mendidih. Perlu extra hati-hati kalau kesitu karena kawahnya hanya dibatasi pagar besi setinggi paha orang dewasa. Di Kawah Sikidang itu kita kenalan dengan 1 keluarga yang dari Jakarta juga. Sempat mampir ke rumah mereka di depan Candi Bima. Lalu kita bareng mereka ke Candi Gatotkaca. Lokasinya sekitar 1 km dari Candi Bima. Candi Gatotkaca mirip dengan Candi Bima, ukurannya kecil. Depan Candi Gatotkaca, ada museum purbakala dan satu bangunan modern untuk gedung pertemuan yang baru dibangun (dan belum diresmikan). Dari Candi Gatotkaca, ada jalan kebawah untuk menuju kompleks Candi Arjuna. Pengunjung bisa jalan kaki kesitu. Tapi kita lewat jalan mobil, yang agak mutar sedikit. Tiket masuk Candi Arjuna sampai ke Kawah Sikidang adalah 6 ribu. Candi-candi yang ada di Kompleks Candi Arjuna adalah Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra dan Candi Semar. Setelah puas foto2, akhirnya kita kembali ke hotel Gunung Mas. Sarapan sudah disiapkan (nasi gorengnya lumayan enak lho). Jam 11 kita check-out dan menuju Wonosobo.
20 Maret 2008 / Kamis Rafting Serayu – Wonosobo Janjian jam 11 sama team dari Yogya Adventure, Mas Ipang dan Mas Hadi untuk mengarungi Sungai Serayu. Alhamdulillah, air gak begitu tinggi (padahal semalam sebelumnya banjir). Serayu is nice!!! Jeramnya OK banget... dan menurut gue masih lebih menarik Serayu dibandingkan Citarik. Pemandangannya pun OK dan yang pasti panasnya gak terlalu menyengat. Highly recommended! Sayang ada kejadian yang bikin gue kesal.. Nikon D40 gue nyemplung ke air gara2 Bayu turun duluan sebelum jeram besar untuk motret kita dari pinggir. Eeee entah gimana, dia yang malah terjun bebas dari sawah ke kali dibawah. Hiks… but the show must go on. Walau gondok kamera rusak, yang penting suami gue selamat. Ternyata di Serayu ini ada dam setinggi 3 m. Jadi sebelum dam, kita semua turun ke darat, dan perahu diturunkan lagi setelah dam. Kali ini Bayu gak ikutan, mungkin bokongnya sakit atau mungkin serem lihat muka gue yang bete karena kamera rusak hehehe… Akhirnya satu perahu lanjut yang isinya cuma gue, Ucup, Mas Hadi dan Mas Ipang. Dari dam ke tempat finish sekitar 15-20 menit. Jeramnya tinggi, banyak standing waves dan saat jeram terakhir perahu kita nabrak tebing kanan dan kelipat dua karena kecepatan yang tinggi. Alhamdulillah gak terbalik dan bisa dikontrol lagi. Total waktu pengarungan sekitar 2 jam. Rafting di Serayu is highly recommended. Grade-nya III-IV. Jeramnya besar2 dan gak banyak flat. Nggak akan nyesel kalau rafting disana. Selesai rafting dan makan siang, kita menuju Yogya. Hujan deras banget, dan hiks... kena macet di daerah Muntilan. Kalau kata orang Yogya.. jembatannya menciut hahaha... Maksudnya jalur di jembatannya mengecil karena dipakai untuk dua arah. Jalur yang kanan sedang diperbaiki. Masuk Yogya sudah jam 7-an. Jemput Harti di rumahnya Atik di Kalasan. Dari situ menuju hotel. Sebenarnya kita sore itu belum dapat hotel. Rencananya mau cari losmen di daerah Kalikuning. Ndilalah.. malaikat penolong kita telepon, Mira Jayuzzz, yang beritahu bahwa dia sudah bantu bookingkan 2 kamar di wisma AURI di Jl. Rejowinangun no. 1, daerah Gedongkuning, Kota Gede. Ya sudah, akhirnya kita stay disitu. Kamarnya bersih dan lumayan lah. Berhubung penuh, kita cuma dapat yang pakai kipas angin. Yang penting kamar mandi dalam (tapi tidak ada air hangat). Ratenya 80 rb untuk 1 kamar (isi 2 orang – 2 bed). Malam itu kita kita makan sate sapi di Kota Gede. Tadinya mau yang di lapangan Karang, tapi penuh buanget! Akhirnya makan di jalan raya Kota Gede-nya. Sama enaknya kok. Dari situ, mampir ke masjid tua Kota Gede, dan kasih lihat ke Ucup dan Harti pemakaman raja2 Mataram kuno (walau hanya dari luar). 21 Maret 2008 / Jumat Gua Cerme
Jam 9 pagi kita sudah check out dari wisma Auri dan janjian sama Mas Klowor dari Yogya Adventure di kantornya (jalan raya adisucipto – setelah hotel Jayakarta persis). Dari situ kita ber-5 menuju ke Gua Cerme, daerah Imogiri (sekitar 30-45 menit dari pusat kota Yogya). Gue dan Bayu sebenarnya sudah pernah ke Gua Cerme ini sekitar tahun 2005 tapi karena waktu itu gak bawa baju ganti, jadi cuma masuk setengah jalan hihi.... Gua Cerme adalah gua wisata, yang konon kabarnya tempat “pertemuan” para Wali Songo. Gak ada lampu, jadi lebih baik bawa senter (atau sewa 5rb perak). Panjangnya sekitar 1.2 km. Siap2 untuk basah karena isi gua ini memang air, tapi tidak berlumpur. Kadang dalamnya bisa sampai sedada orang dewasa. Ornamen gua bagus, gak banyak kelelawar jadi gak begitu bau. Di titik akhir ada air terjun yang lumayan deras. Dari air terjun bisa lanjut tembus ke pintu akhir. Kita lebih milih untuk balik lagi ke pintu utama melewati jalan yang sama, karena menurut Mas Klowor ornamen gua setelah air terjun sudah nggak ada lagi. Total kita ada sekitar 3 jam di dalam gua. Ternyata begitu keluar gua, sudah hujan deras. Yah ga papa, toh sudah kadung basah kuyup. Setelah sampai kota Yogya, kita cari hotel lagi. Tujuan ke Kalikuning. Tapi trus dapat satu tempat penginapan yang bersih dan lumayan bagus, namanya Wisma Kembar. Lokasinya sekitar 50m sebelum Mirota Kaliurang. Karena cuma ada 1 kamar yang sisa, kita terpaksa satu kamar ber-4, plus extra bed 2. Rate room only adalah 50 rb (tidak ada breakfast, tidak ada air hangat), tambah extra bed @ 30 rb, jadi total 110 rb. Malam itu kita tidur lebih awal, karena persiapan untuk hari Sabtu.. rafting lagi... tapi kali ini di Progo Bawah (Magelang). Hiyaaaaaaa......
Iseng ambil cuti berhubung boss2 gak ada dan gw kangen Yogya. Jadi berangkatlah kita kesana. Agenda kali ini selain jalan-jalan adalah berkunjung ke saudara. Dah lama gak ketemu saudara2 di Yogya. Sampai Yogya jumat pagi, dijemput saudara. Dipinjemin mobil free pula :) Eits.. Yogya panas banget jo! Ternyata belum hujan beberapa hari. Hari pertama dilewatkan hanya utk sowan ke saudara dan teman-teman. Nyobain Mang Engking di daerah Godean (ternyata di Depok ada juga huahahaha). Udang dan kepitingnya mantap.. tapi rasa manisnya kelewatan. Hari kedua, mampir Candi Sari, dekat Kalasan, yang merupakan Candi Budha, dibangun sekitar abad 9 jaman Mataram kuno. 200m dari jalan raya Solo. Dari dulu penasaran sama ini candi karena tiap kali mau kesitu pasti gak ketemu2. Alhamdulillah, berhasil juga. Dari situ langsung bablas ke Solo. Terakhir gw ke Solo waktu TK :) Langsung ke Tawangmangu. Mau ke Candi Cetho dan Candi Sukuh di kaki G. Lawu, sambil mampir juga ke rumah saudara disana. Ternyata saudara kita punya perkebunan di Tawangmangu. Namanya Amanah Farm. Ada hotel dan tempat outbound, plus resto dan pemancingan segala. Sedikit promosi. Dengan pemandangan yang OK banget, it sure is a cozy place. Dari Amanah Farm ke Candi Sukuh, candi Hindu. Sekitar 36 km dari Solo. Terkenal sebagai candi yang erotis. Letaknya agak naik ke atas bukit. Dari situ bisa lihat pemandangan yang bagus banget. Candinya sendiri kecil tapi bentuknya beda dengan candi-candi lainnya. Candi utama mirip dengan peninggalan suku Maya atau seperti piramid dengan bagian atas yg datar. Dan disitu juga banyak arca lingga yoni dan juga arca-arca yang vulgar. Konon kabarnya Candi ini dipakai untuk mengetes keperawanan para gadis di jaman itu. Dari Candi Sukuh, turun lagi ke jalan raya, dan belok kiri ke arah Candi Cetho. Jalannya menanjak terus. Tapi pemandangannya spektakuler. Kiri kanan perkebunan teh. Hijau semua. Bikin segar mata. Seperti Candi Sukuh, Candi Cetho ini juga candi Hindu, dibangun sekitar abad 14. Di Candi ini ada 9 tingkat. Sampai sekarang masih dijadikan tempat sembahyang umat Hindu. Di belakang Candi pun ada pura Hindu. Penduduk sekitar juga beragama Hindu. Perlu extra effort untuk naik ke Candi Cetho ini. Selain jalannya yang nanjak tinggi, di candinya juga banyak tangga. Tapi pemandangan dan hawa sejuknya mengalahkan semua rasa capek. Sama seperti Candi Sukuh, di Candi Cetho juga ada bbrp arca yang agak vulgar, seperti (maaf) alat vital laki2. Konon kabarnya untuk pemujaan bagi kesuburan pasangan. Karena sudah sore, akhirnya kita kembali ke Solo. Bingung mau nginep mana.. untung ada majalah Tamasya hehe.. Referensi mereka: Romahkoe bed and breakfast. Di jl. Dr. Radjiman, Laweyan, Solo. www.roemahkoe.info. Deluxe room sekitar 320 rb-an. Bangunannya tua, dibangun sekitar tahun 1930-an klo gak salah. Dari luar gak kelihatan seperti boutique hotel. Sederhana. Tapi kesan spooky yang biasanya ada di rumah tua langsung hilang begitu liat kamar2nya. Semuanya sudah modern, dan asri. Interior hotel juga bagus. Usut punya usut, ternyata Roemahkoe ini milik Ibu Nina Akbar Tandjung. Pantes aja banyak foto2 pejabat yang stay disana :) Malam itu ketemuan sama sepupu, makan lesehan (nama daerahnya lupa). Ber-5 makan kalap, dan habisnya cuma 60 rb. 60 ribu!!!! Itu udah ikan, ayam, sate usus, bebek yang porsinya segede2 bagong. Dalam perjalanan menuju hotel habis makan, sempat liat ada yang jualan sate jamu. Kita pikir itu Sate plus minum jamu. Ternyata Sate Jamu artinya Sate daging anjing. OMG! untuuuung gak nekad mampir situ.... Sabtu pagi, kita check out dan kembali menuju Yogya. Kebetulan ada kawan yang sudah nunggu kita untuk liat Bebeng di Merapi. Utk masuk sana, bayar 2rb per orang. Dari Bebeng, ketemu penduduk desa yang lagi bangun pipa air bersih. Sumber mata air ada di gua jepang, dialirkan lewat pipa, dan yang mengerjakan adalah para penduduk desa sekitar Merapi. Hebat.. mereka gak dibayar. dan pekerjaan mereka penuh resiko. Untuk bangun pipa itu, mereka harus nyebrang jurang sedalam 30 m, selebar 90m. Dengan alat minim. Hanya kotak besi kecil yang kalau kita masuk, harus jongkok. Dan diikat pakai tali, disebrangin ke seberang jurang dengan bantuan tali yang ditarik bbrp orang. Tanpa ada alat pengaman lainnya. Goyang dikit, jurang 30 m menanti. Gw liatnya aja udah pusing.. gamang. Dari Merapi kembali ke kota. Cari hotel, semua penuh. Dapatnya di Melia Purosani. Setelah check in, malamnya makan malam dengan saudara2 di Timbul Roso Kaliurang. Food review: biasa. Sambelnya maniiiiis banget. Minggu pagi, packing. Check out, dan mampir ke Ambarukmo Plaza, anterin keponakan yang lagi lomba mewarnai, sambil gw beli sendal yang putus karena dipake ke bebeng tempo hari. Jam 12, check in di airport. pesawat harusnya berangkat 12.55 tapi delay lama banget. Segala posisi duduk udah semua tuh, tinggal nungging aja yg belum. Jam 3 baru take off. Sampai Jakarta sekitar jam 4 kurang, dan pengumuman dari pilot.. suhu jakarta sekarang adalah 36 derajat Celcius. YAIKKKSSS......
25 Agustus 2007 Akhirnya jadi juga pergi ke Bromo (lagi). My 4th time, tp tetap aja gak akan pernah bosan kesana. Kali ini pesertanya gw, Bayu, Lisa, Martin (suaminya Lisa), Mbak Ria, Yuli dan Amy. Berangkat naik Air Asia yang jam 6.50. Jam 5 pagi udah nongkrong di bandara. Pesawat lumayan sepi, jadi bisa pindah2 tempat duduk cari pemandangan bagus buat motret. Jam 8.10 sampai Surabaya, sudah ditunggu mobil kijang sewaan. Langsung meluncur ke Bromo via Probolinggo. Keluar tol Porong antriannya udah panjang banget, dan sudah banyak orang yang nawarin jadi guide utk lewat jalan kampung. Akhirnya setelah tawar menawar, dapat 20 rb. Lewat kampung belakang cuma 15 menit, keluarnya di jalan tol Gempol yang diputus warga. Dari situ makan siang dulu di rumah makan sate di Pasuruan. Jam 12-an lanjut ke Probolinggo, dan tiba di Sukapura jam 3-an. Langsung menuju air terjun Madakaripura. Ternyata jembatan menuju situ masih anjlok. Akhirnya sewa ‘local guide’ disitu utk anterin kita lewat jalan satunya. Pas tengah jalan, ternyata mobil mogok krn air radiator tiba2 kering. Setelah diisi, gak sampai 5 menit, ternyata motor si guide nya yang kena paku. kacau banget...
Tapi akhirnya sampai juga ke Madakaripura. Tiket masuk 20 rb utk ber-7 plus mobil (plus tip). Waktu pertama kali ke Madakaripura thn 2005, jalan setapak ke air terjun masih bagus. Sekarang ternyata sudah terpotong karena longsor. Jadi beberapa kali harus lewat tengah sungai yang untungnya nggak deras. Madakaripura masih tetap sama mengagumkan seperti waktu gw pertama kali datang dulu. Tapi kali ini.. gw sampai juga ke air terjun terakhir dan menginjakkan kaki disana!!! Yippey… ! Kolamnya warna biru langit, 7 m dalamnya. Air terjunnya deras padahal musim kemarau. It’s the place where I felt so small. Seperti gak ada apa2nya di mata Tuhan. Setelah puas foto2, kita semua makan indomie dan pisang goreng (enak banget!!!) di tengah2 sungai Madakaripura. Dimana lagi bisa makan indomie di tengah sungai berbatu besar dengan pemandangan air terjun. Jam 5-an kita keluar Madakaripura untuk ke Bromo. Udara udah mulai dingin banget. Ternyata sebelum hotel Grand Bromo, ada pos retribusi. Alasannya karena ada Kasodo, jadi Pemda Probolinggo pasang tiket masuk. Gak papa lah.. murah kok, cuma 14 rb. Itung2 kasih pemasukan buat pariwisata sana. Sampai di rumah Tarje (sahabat kami di Sukapura) sudah jam 6.30an. Langsung disuguhin makan malam. Dan kali ini gak ada yg mau mandi... dinginnya kebangetan. 26 Agustus 2007 3 a.m. Morning call... setelah kumur2 pake listerine dan cuci muka ala kadarnya dengan air es, kita langsung menuju Penanjakan utk liat sunrise dengan jeepnya Tarje. Tiket masuk: 35 rb (utk mobil dan penumpang 7 orang). Ternyata di Penanjakan sudah penuh turis asing yang gede tinggi, terpaksa foto matahari terbitnya pake sikut sana sini. Setelah puas foto2, di salah satu warung kita makan indomie dan minum teh ngepul yang gak terasa panas. Jam 7an, langsung ke Ranu Pani lewat Padang Pasir, kira2 satu jam. Jalanan nanjak terus, dan cuma bisa dilalui 1 mobil. Kondisi jalan setengah pasir, setengah aspal atau pavement block. Pemandangannya bagus buanget... bisa liat seluruh padang pasir yang tertutup kabut. Seperti jalan diatas awan. Ranu Pani adalah pintu masuk untuk ke Semeru. Buat yang mau daki Semeru, laporan dulu di pos jaga dekat Ranu Pani. Sayang, Ranu Pani saat itu airnya gak begitu banyak. Walau gitu tetap cantik. Dari Ranu Pani, jalan kaki ke Ranu Regulo, sekitar 500m, lewat jalan setapak. Ranu Regulo lebih kecil tapi sekelilingnya benar2 hening.. cuma ada suara angin dan yang pasti..dingin. Jam 11-an kembali menuju Ngadisari. Mampir dulu foto2 di Pasir Bersisik dan Padang Savana. Tp sayang padang savana lagi nggak hijau. Sampai rumah Tarje, beberapa dari kita memberanikan diri untuk mandi dan gw keramas dengan air es. Lumayan bikin beku otak. Habis itu tepar. Bangun sore, jam 5 keliling kampung dan langsung ke Pendopo bawah untuk liat sendratari dan bazaar kecil2an. Tp sayang sendratarinya blm mulai, jadi cuma makan sate plus sosis aja. Karena dingin sudah sangat menggigit, akhirnya balik ke rumah Tarje. Rencana awal jam 9 malam pada mau ke Pendopo lagi liat sendratari trus langsung ke Pura Poten utk liat upacara Kasodo (upacara dimulai jam 12 malam). Tp krn mata gak mau kompromi, kita ketiduran semua, dan bangun2 jam 2 pagi, dibangunin Mas Tarje. Sempat ragu2 mau terus turun ke Pura atau nggak, krn udara dingin banget. Dan sempat dapat kabar juga kalau sesajen utama sudah dilarung ke gunung Bromo. Tp akhirnya diputuskan utk berangkat ke Pura, siapa tau upacara masih ada. 27 Agustus 2007 Jam 2 pagi meluncur ke Pura Poten di padang pasir. Sampai Pura ternyata masih banyak orang, dan masih ada upacara lagi. Sempat panik, krn gak bisa napas sama sekali akibat asap belerang yang pekat. Untung asap belerang cepat hilang.. tapi cepat juga datang lagi hehe... terpaksa kemana2 pakai syal sampai nutup hidung. Upacaranya sendiri ternyata cuma pembacaan doa-doa dari para dukun, dan juga pembacaan asal usul Kasodo. Tahun ini rupanya gak ada pemilihan dukun utama, jadi kurang ramai. Yang datang juga gak begitu ramai, paling banyak sih dari turis asing. Mungkin jg karena TERNYATA status G. Bromo yang WASPADA (kita malah gak ada yang tahu). Setelah ada pembacaan doa dari 4 dukun utama, para asistennya mulai bawa sesajen utk dilarung ke Bromo. Sayang kita gak ada yg ikut ke atas Bromo, krn asap belerang terlalu pekat dan juga gak bisa ngejar mereka yang lari kencang banget.. Selain dukun2 utama, ada juga dukun dari masing-masing kampung. Penduduk sekitar biasanya bawa hasil panennya utk didoakan oleh sang dukun. Minta berkah supaya panennya berhasil. Karena matahari belum terbit (masih jam 4 pagi), kita akhirnya makan indomie di warung2 pinggir padang pasir. Indomie lansung santap begitu keluar dari panci, plus teh mendidih, tetap aja makan dan minumnya gak pake ditiup lagi.. krn saking dinginnya. Gak tau deh waktu itu berapa derajat, tp kata orang-orang sana, hari itu suhunya jauh lebih dingin dari sebelumnya. Hebatnya, our friend Tarje the Jagoan, cuma pakai jaket, dilapisi sarung dan sandal jepit tanpa kaus kaki. Tapi belakangan dia ngaku kalau saat itu sebenarnya kakinya sudah mati rasa hahahaha Habis makan indomie, menuju Bromo lagi. Krn masih gelap, akhirnya tidur di mobil dulu (dan gw cukup pulas). Begitu bangun, ternyata udah jam 5.30an.. matahari sudah terbit. Gw, Martin dan Tarje nunggu di mobil, yang lainnya naik ke atas Bromo. Ternyata yang bisa sampai ke pinggir kawah cuma Bayu, Amy dan Mbak Ria. Yuli dan Lisa turun lagi krn gak kuat sama belerang. Banyak turis2 yang juga cuma setengah jalan trus balik lagi krn gak kuat. Di bawah kawah, ternyata banyak masy. Tengger yang pada berkemah, dengan resiko tinggi jatuh ke dalam kawah. Mereka ”bertugas” nangkap setiap sesajen yang dilempar ke dalam kawah. Jam 8an setelah semua turun dari Bromo, kita pulang ke rumah Tarje.. Jam 9 pamitan ke Tarje dan keluarga, utk lanjut ke Malang via Lumajang. Skenario awal, mau mampir ke Gua Tetes di Lumajang, tapi terlewat karena gak ada petunjuk jalan yang jelas. Tapi gak nyesel kok, krn lewat Lumajang ternyata bagus juga. Jalannya memang berliku tapi pemandangannya bagus banget. Dan benar-benar bisa liat Mahameru langsung depan mata. So huge.. so amazing... Sampai di Malang jam 2-an, saat mau tanya arah ternyata pas depan the legendary Toko Oen. Akhirnya makan siang dulu disitu. Dari situ langsung cari penginapan. Kita stay di Eny’s Guesthouse, di Jl. Wilis. Tempatnya bagus, bersih, dan homy. Kamar double plus AC 220rb, dan yg utk 5 orang tanpa AC 275 rb. Bisa bikin minum sepuasnya dan dapat makan pagi. Oma Eny, the owner, is such a nice person. Beliau punya toko batik kecil, yang semuanya baju dan kainnya dijahit sendiri. Batik2nya pun bagus2… dan yang pasti gw kalap belanja batik disana. Setelah istirahat, malamnya kita cari bakwan Malang yang terkenal itu. Dapat info dekat Stasiun Malang ada bakwan enak, akhirnya kita makan disitu. Malamnya yang cewek-cewek berburu baju-baju lucu di beberapa butik sekitar guesthouse. 28 Agustus 2007 Jam 7 pagi. Check out dan menuju Surabaya. Mampir ke Candi Singosari untuk foto2 sebentar. Abis itu bablas ke tanggul Lapindo, untuk inspeksi hehe... Sampai Surabaya jam 10-an, langsung menuju House of Sampoerna. Trus makan siang di Dapur Desa (Tunjungan), dan beli oleh-oleh di Genteng, dan langsung meluncur ke airport. Pesawat kita jam 5, Alhamdulillah gak delay, selamat sampai Jakarta jam 18.30. Back to our lovely Jakarta yang macet totaaaal....
Sebelum puasa ini kami mau mohon maaf lahir dan batin, bila ada kesalahan yang disengaja maupun yang nggak disengaja. Dan juga mau mengucapkan selamat Puasa... Semoga ibadah selama bulan Ramadhan kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya.
3 Agustus 2006 – Kamis
12 p.m.
Meeting point: Damri Blok M…Dita,
Bayu, Vera, Sony ‘n Ismi. Keke langsung ketemu di airport.
15:40.. bye bye Jakarta…
heading off to Padang
by Air Asia.
Sampai Padang sekitar jam 5. Nunggu
Sadli yg nyewain mobil ke kita. Dapat APV 275 rb per hari, tanpa supir. Tapi
sore itu APV nya blm siap, jadi utk sementara diganti Avanza.
Dari airport langsung Padang (sekitar 20 menit),
nyari peta di Gramed trus makan malam di Bofet Malabar… roti planta susu coklat-nya
tob banget.
Abis makan, diputuskan utk
langsung ke Bukittinggi dgn pertimbangan di Padang gak banyak yg bisa dilihat dan
lagipula kita bisa mulai jalan pagi2 dari Bukittinggi. Padang-Bukittinggi hanya
sekitar 2 jam. Kondisi jalan bagus tapi agak harus hati2 krn banyak truk yang
lewat. Sayang malam, jadi gak bisa liat pemandangan bagus di kiri kanan.
Sekitar jam 10 sampai di
Bukittinggi, langsung ke Singgalang Hotel (tel. 0752-21576) di Jl. Ahmad Yani, (kampung
Cina – jalan Jaksa-nya Jakarta).
Hotelnya bersih, kelas backpacker dan murah, 120 rb per malam termasuk sarapan
roti bakar dan air panas. Hotelnya sekitar 200 m dari jam Gadang, dan ada
diantara Kebon Binatang dan Benteng Fort de Kock .
4 Agustus 2006 – Jumat
7 a.m.
Roti bakar dari hotel nggak
nendang. Akhirnya nyebrang jalan, makan di warung mie bangka dan lontong sayur.
8 a.m.
The adventure began 
Kunjungan pertama: Fort de Kock. Tiket
masuk 5 ribu, bisa utk ke benteng dan bonbin. Antara bonbin dan benteng
dihubungkan dengan jembatan besi yang bagus, namanya Jembatan Limpapeh. Dari
tengah jembatan, bisa liat pemandangan kota
Bukittinggi.
Lumayan kaget waktu nyadar bahwa
satu bangunan kecil di atas bukit yang kita
kira menara air itu sebenarnya adalah bangunan benteng itu sendiri J
Nggak keliatan kuno, malah kayak bangunan baru. Sekeliling benteng itu ada bbrp
meriam tua. Tamannya bagus dan bersih. Kita juga bisa foto2 dengan burung2 spt
kakaktua, beo dll dgn hanya bayar seribu.
Dari Benteng trus nyebrang ke Bon
bin kecil.
Sekitar jam 10.30 berangkat ke
Danau Maninjau. Gue pikir kelok 44 tuh dimulai begitu masuk ke jalan yang
menuju Maninjau. Tapi kok dihitung ada sekitar 100 kelok lebih! Ternyata yang
dimaksud kelok 44 tuh masih jauh di bawah. Ada tandanya. Di Kelok 43 ada warung minum kecil
yang strategis banget. Dari warung itu bisa ngeliat pemandangan seluruh
Maninjau yang bagus banget itu sembari foto2.
Akhirnya setelah melewati 44
kelok yang ajaib bana dan setelah bertegur sapa dengan para monyet disana
akhirnya nyampe juga di Maninjau. Danaunya bagus tapi potensi wisatanya nggak
dikelola dgn baik. Kalau mau ke tepi danau, harus mampir ke hotel atau restoran
situ krn gak ada akses langsung dari pinggir jalan ke tepi danau. Restorannya
pun banyak yang nggak menarik. Tapi karena perut sudah meronta kelaparan, akhirnya
kita makan siang di warung padang
dekat pasar Maninjau sambil nunggu Bayu sholat Jumat.
Jam 1-an keluar dari Maninjau.
Tujuan berikutnya: Lembah Harau, Payakumbuh.
Dari Bukittinggi sekitar 1 jam.
Lurus aja ngikutin jalan ke kota
Payakumbuh. Dari pusat kota
masih sekitar 11 km lagi ke Lembah Harau. Dari gerbang ke Lembah Harau sekitar
4 km lagi.
Sampai sana… waaaahhh… takjub… bagus banget!!!
Katanya Lembah Harau ini surganya para pemanjat tebing.
Tiket masuk 1000 perak per orang.
Ada dua air
terjun disitu. Dari loket belok kanan, sekitar 2 km lagi ada air terjun kecil.
Kalau dari loket belok kiri, sekitar 2 km lagi, air terjunnya cukup besar.
Sayang karena kemarau airnya cuma netes aja. Di samping air terjun bisa naik
keatas liat panorama alam Lembah Harau. Jalan agak jauh ke ujung dikit ada
kebon binatang kecil. Tapi kita nggak kesana. Katanya sih disana cuma ada
buaya.
Di depan air terjun bisa
istirahat sebentar di kios2 minuman yang berjejer disana.
Di Lembah Harau ini juga ada
penginapan, namanya Echo Home Stay. Modelnya seperti pondokan dari kayu gitu.
Pasti asik nginep disitu, krn benar2 nuansa alam, apalagi dikelilingi “tembok”
tebing tinggi.
Krn hari sdh semakin sore,
akhirnya balik ke Bukittinggi. Di tengah jalan Bayu inget ttg Gua Ngalau Indah.
Tp krn di peta gak ada lokasi tepatnya, jadi nanya ke kantor polisi. Ternyata
lokasinya tuh di dekat gerbang kota
Payakumbuh yang baru kita lewatin. Huahaha…. Tadi nggak mau nanya2 sih…
Sampe di hotel istirahat sebentar,
trus makan malam di warung seafood pinggir jalan. *udang lada hitam terenak
yang pernah gue makan*
Trus ke alun2 Jam Gadang. Seperti
biasa, foto2 disana. Jam Gadang lagi rame pengunjung.. dan rame tukang jualan
juga. Yang gila duren pada pesta duren. Berhubung gue anti duren, jadi agak pisah
jauh 
Sabtu, 5 Agustus 2006
Bangun pagi semua.
Tujuan pertama: Danau Singkarak.
Berangkat jam 7 pagi, lewat
Padang Panjang kearah Solok. Sekitar 1 jam-an nyetir (ngikutin rel kereta api),
ternyata danaunya sudah keliatan di sebelah kanan, persis di pinggir jalan.
Untuk main2 di pinggir danau,
bisa masuk ke Wisata Tanjung Mutiara. Bisa sewa perahu motor utk keliling
danau, atau bisa cuma duduk di “pantai”. Danaunya lumayan bersih, airnya jernih.
Trus sarapan indomie sambil ngobrol2 sama si bapak yg punya warung. Kata si
bapak itu, konon di bawah Danau Singkarak banyak kandungan minyaknya. Sudah
pernah ada studinya tapi tidak akan pernah dieksploitasi karena bertentangan
dengan adat disitu.
Jam 9.30 ke Pagaruyung. Nyusurin
Danau Singkarak, trus belok kiri ngikutin jalan. Pemandangannya bagus, liat
sawah dimana2. Dijamin mata nggak ngantuk, coz this is the view you don’t
want to miss.
Sampai Pagaruyung sekitar jam 10.30-an.
Panas buanget!!
Tiket masuk Istana Pagaruyung
2500 perak per orang. Mobil harus parkir di seberang jalan.
Istananya luas sekali… Rumah
Gadang tua yang konon usianya sudah satu abad tapi bangunannya masih kokoh.
Di lantai satu ada lobi luas
dengan barisan pilar kayu tinggi, dan sebelah kiri dan kanan adalah ruang tidur
para putri raja. Ruangannya nggak ada tembok, hanya dibatasi seperti tirai
warna warni. Dekorasinya juga pernuh warna, tenunan dan manik2.
Di lantai satu ini juga bisa foto
pakai baju adat minang, sewanya 25 rb per baju.
Untuk ke lantai dua dan tiga,
bayar tiket lagi 1500 perak (hmm…
komersil banget). Di lantai dua ada tempat tidur raja juga ruangan
tempat peninggalan2 kuno seperti koin, senjata, naskah2 tua dll.
Lantai tiga cuma ada ruangan
kecil kosong dengan dinding penuh ukiran.
Jam 12 balik ke Bukittinggi lewat
Payakumbuh, mampir foto2 dulu di Istana Silundang Buang gak jauh dari Istana
Pagaruyung. Kita gak bisa masuk kedalam karena tutup tapi bisa foto2 di
terasnya. Istana ini terhitung baru karena istana yang lama habis terbakar dan
tahun 90an direnovasi atas biaya pemerintah.
Dari situ trus ke Gua Ngalau
Indah. Sekitar 1 jam dari Pagaruyung. Letaknya nggak jauh dari pintu masuk kota Payakumbuh, ada
petunjuknya ternyata. Tiket masuknya lupa, kalo gak salah sekitar 4000 perak.
Dari loket ke Gua sekitar 1 km jalan menanjak.
Di gua ini banyak kelelawar,
makanya sebenarnya waktu yang paling bagus untuk ke gua ini adalah menjelang
Maghrib pas para kelelawar itu keluar cari makan.
Dari parkir mobil harus naik
tangga yang lumayan bikin capek. Di dalam gua sudah ada penerangan tapi karena
sering mati lampu jadi disarankan pakai senter juga. Dari mulut gua harus turun
lewat tangga. Buat yang nggak tahan bau, siap2 tissue wangi aja krn udaranya
campur bau kotoran kelelawar plus debu.
Di dalam gua itu ada beberapa
batu yang (katanya) unik. Ada
yang menyerupai gajah, makanya dikasih nama Batu Gajah. Ada yang seperti ibu menangis dll.
Sayang guanya kurang terawat.
Banyak coretan sana
sini dan pastinya sampah berserakan juga.
Nggak jauh dari Ngalau Indah, ada
gua lagi namanya Ngalau Kamang. Tapi karena harus naik tangga yang ajaib,
sementara kaki kita udah gempor semua, akhirnya kita lewatkan yang satu ini.
Langsung ke Ngarai Sianok, turun
ke arah gua Jepang. Ngarai Sianok dari bawah… mmm… ilfil banget.. sungainya
penuh sampah, di rumput penuh sampah. Aduh jorok banget deh. Ini ngarai udah
kayak penampungan sampah, bau pula. Penduduk sekitarnya nggak peduli alam sih. Pemandangan
yang harusnya bagus, jadi minus banyak karena sampah2 ini.
Trus kita naik ke Panorama untuk
liat Ngarai Sianok dari atas. Tiket masuknya kalau nggak salah 6000 perak.
Panorama ini letaknya di pinggir jalan persis. Disitu bisa foto2 Ngarai Sianok
sepuasnya. Arah kanan adalah Ngarai dengan pemukiman dibawahnya. Kalau sebelah
kiri, pemandangannya lebih bagus. Apalagi kalau langit cerah, bisa dapat bonus
pemandangan Gunung Merapi sekalian. Sayang kemarin langit agak mendung dan
berkabut, jadi itu gunung cuma keliatan setengah.
Di Panorama ini juga ada kios2
cinderamata. Murah2 dan bagus2. Kalau
mau foto2 bisa naik ke menara tiga tingkat.
Dari Panorama keliatan jalan yang
menuju Koto Gadang (pusat kerajinan perak). Ke Koto Gadang ini ternyata harus
lewat pemukiman di bawah Ngarai Sianok dulu. Kalau naik mobil sekitar 30 menit.
Kalau mau trekking kesana bisa sekitar 1 jam lewat jalur khusus nyebrang Ngarai.
Setelah puas foto2 dan juga sudah
mulai Maghrib, balik ke hotel (ternyata dari Panorama ke hotel cuma sekitar 1
km). Mampir ngemil di café kecil depan hotel, namanya Apache. Ada live music-nya juga lho.
Ngobrol2 sama Uda Ucok, tour
guide disitu. Dia nawarin kita utk ikut trekking ke Gunung Merapi malam itu
juga. Waduh.. mau sih… tapiii…..
Si uda ini juga cerita banyak ttg
Mentawai.
Jadi pengen kesana.
Ngobrol lama…. Nggak kerasa udah
lewat jam 8. Balik ke hotel, istirahat sebentar trus nyari makan. Berhubung perut
kita semua udah gak ada yg bisa nerima nasi padang, akhirnya makan yang aman aja.. KFC…
huahaha…
Minggu, 6 September 2006
7.30… check out.
Nyari sarapan.
Pasar Atas ternyata belum buka
heheh…
Krn tujuan pertama adalah berburu mukena dan oleh2, akhirnya ke Pasar Aur
Kuning di terminal Bukittinggi. Dapat info dari orang hotel, kalau mau belanja
Mukena jangan di Pasar Atas krn harganya mahal. Pasar Aur Kuning itu pusat
grosirnya. Pedagang di Pasar Atas rata2 ambil mukena juga dari Pasar Aur Kuning
ini.
Ternyata benar J
Beda harganya bisa 50 rb sendiri untuk mukena yang sama… Pas selesai belanja,
mulai deh bingung gimana bawanya.. soalnya beli mukena aja udah sekoper sendiri
.. wakakaaaaakkkk…..
Dari Aur Kuning, mampir beli
kripik sanjai. Yang jual banyak di pinggir jalan menuju Padang Baru (arah
keluar menuju Padang Panjang). Katanya yang paling enak tuh kripik Sanjai
Nitta. Mampir sana
tapi kripiknya blm jadi, dan si mbak2 yang jualan bikin gregetan. Akhirnya
pindah ke Sanjai Mintuo. Lumayan enak juga.
Dari situ makan siang di Padang
Panjang. Ini salah satu kebodohan kita. Maunya makan di Sate Mak Syukur yang
terkenal itcu.. trus nanya orang.. ditunjukin bhw satenya ada di dalam pasar.
Ya udah kesana. Tapi tempatnya kok kecil.. dan satenya.. hmmm.. jangan tanya..
bikin gak nafsu… Mulai curiga nih.. jangan2 salah…
Begitu keluar, udah di jalan
raya, ngelewatin Sate Mak Syukur yang asli. Huuuuuhhh… ketepu! Mau mampir lagi
males, udah kenyang walo hati gondok.
Menuju Padang… gue udah gak
ngeliat pemandangan lagi deh… soalnya ngantuk berat. Tau2 udah nyampe Lembah
Anai. Anak2 pada turun foto2 di air terjun Lembah Anai, tapi gue tetap di mobil
krn mata gak mau kompromi.
Air terjunnya letaknya di pinggir
jalan persis.
Trus lanjut ke Padang. Ternyata sampe Padang masih jam 13.30. Diputuskan mau terus
ke Pantai Air Manis, ngeliat batu Malin Kundang. Tapi karena jauh, akhirnya
belok ke toko Christine Hakim beli oleh2 lagi sekardus.. huahahaaaa….
Dari toko itu, lewat pantai,
langsung ke airport. Jam 6 pesawat gue sama Bayu. Vera, Soni, Keke dan Ismi
pulang Senin. Jadi mereka antar kita dulu ke airport.
Jam 6 akhirnya pesawat gue sama
bayu take off..
bye bye Padang..
Back to hectic Jakarta.. home
sweet home.. my soft kasur.. my soft bantal… back to Ndut my cat..
Long weekend..30 Mar - 2 april.... Where to go? Maunya sih ke Medan
tapi gak dapat tiket... akhirnya ke Surabaya-Bromo (again!!!) dan
Malang.
30 Maret
Ke Surabaya, naik pesawat paling pagi.. nyoba Air Efata yg promosinya sih.. (katanya) oke...
Selama penerbangan memang ok.. take off dan mendarat ok banget...
Tapiiii paginya itu di Soekarno Hatta, pake ngamuk2 dulu. VERY POOR
GROUND SERVICE!! Jam 5.30 pagi udah di bandara, tapi nguantri
panjaaaaang masuk ke ruang check-in. Petugas gak sigap.
Pe depan check-in counter udah jam 5.45. Berdiri ngantri dapetin
boarding pass berapa lama? Cukup 1 jam saja. Kenapa bisa begitu? Karena
check-in nya MANUAL. jadi ditulis tangan getoooo... dicoret2 pula...
Jadilah pesawat delay 30 menit krn nungguin yg blm pada dpt seat.
Setelah minta kepastian dengan NADA TINGGI (hampir gebrak meja - spy
keliatan galak), baru dapat seat.. terpisah-pisah. Dita di paling depan
(enak sih.. bisa selonjor...), Bayu paling belakang, Ikke dan Koko
ditengah.
Tapi kekesalan hati lumayan terobati dengan penerbangan yg mulus dan
makanannya lumayan enak (bukan roti coklat ato srikaya dan air mineral
gelas spt yg biasa dibagiin airlines lain).
Pe SBY, jam 8 lewat, dijemput Mas Wien, makan dirumahnya dulu. Trus
sewa mobil. Lumayan dapat Panther 175 rb. Berhubugn masih pagi, jadi
mau jalan2 di Surabaya dulu. Ikke blm pernah ke SBY, jadi plesirin dia.
Pertama2 sih pengen liat Patung Jalesveva itu di Pangkalan AL..
tapiii... gak boleh masuk.. :(( Akhirnya cuma puas ngliat patung Gadjah
Mada yg ada di komplek situ huahaha...
Dari AL, ke daerah pantai Kenjeran. Sayang sudah banyak gedung yg rusak
dan nggak terawat, tapi di dalamnya ada Patung Budha berwajah empat yg
bagus banget... Serasa di Thailand. Depan Patung itu ada Vihara...
sayang laut lagi surut, jadi gak bagus.
Dari Kenjeran, ke Pasar Genteng beli oleh2 duluan krn takutnya gak
sempat. Trus balik ke rumah Mas Wien, ngerampok jaket heh heh...
Malamnya langsung menuju Malang. Nginep di Hotel Jayakarta. Hotel murah
meriah tapi bagus dan bersih. Tengah malam semua kebangun krn ada suara
gemuruh, kirain diluar hujan badai, ternyata kereta lewat..
huahahaha....
31 Maret
Ke air terjun Coban Rondo, setelah Batu-Malang. Hutannya bagus, dan
bersih. Dari tempat parkir gak jauh jalannya, hanya sekitar 100 m. Air
terjunnya setinggi 86 meter, kalau berdiri dekat situ basah krn kena
percikan air. Tapi ok buat foto2.
Dari Coban Rondo, mampir makan di depan Univ. Muhamadiyah, sembari nunggu Bayu sholat Jumat.
Trus mau mampir ke Candi Badut tapi kelewat. Akhirnya ke Candi Singosari.
A small Candi but nice. Struktur bangunannya sudah selesai dibangun,
tapi relief-nya baru diukir di bagian atas aja krn keburu diserang sama
kerajaan lain. Makanya ada kepala Mukakala yang matanya baru diukir
satu, satunya lagi masih polos.
Masuk ke situ gak bayar, tapi kasih sumbangan sukarela aja 10 or 20 rb.
Disana suka ada adik2 dari SMK yg lagi PKL dan dengan senang hati
njelasin kisahnya Candi ini.
Nggak jauh dari candi, ada dua arca raksasa yg diperkirakan sebagai penjaga pintu gerbangnya Singosari.
Di dalam candi itu ada air suci (Tirta apa gitu namanya), yang airnya
gak pernah habis. Konon katanya kalau ada yg ambil air itu utk cuci
muka dan airnya bening, berarti niatnya baik. Tapi kalau coklat atau
kotor, orang itu punya pikiran jahat. Dibawah air suci ini konon juga
ada abunya raja Singosari.
Sebagian arca dibawa Belanda krn mereka dulu yang memperbaiki candi ini.
Dari Singosari, kita menuju Bromo. Ngeliat ada papan jalur alternatif
Bromo.. ya udah belok situ.. ternyata itu jalur menuju Tosari, yang
memang tembus ke Bromo tapi dari sisi lain Cemorolawang. Pemandangannya
lebih bagus sih tapi not recommended krn jalannya banyak sekali
tikungan patah dengan kiri kanan jurang. Pusing...
Akhirnya krn nggak sanggup bermalam di Tosari (krn hotel cuma ada satu
dua dan jalur yg agak bahaya), diputuskan turun lagi ke Pasuruan, dan
naik ke Bromo lewat jalur Probolinggo.
Untung masih sore, jadi sampai Bromo masih jam 7an.
Mampir ke rumah Tarje. Ternyata our friend Tarje sekarang jadi petani,
nggak nyupir jeep lagi. Tapi Tarje nekad mau antar kita ke Penanjakan
dan Bromo naik Panther tua ini. Hwaaaaaa... sempat nolak nolak tapi
doski kekeuh barekeuh... Ya sutra, gak enak nolak lagi.
Malam itu nginep di Lava View Lodge, deluxe room 250 rb. tapi kena
charge 50 rb lagi krn kita kekeuh minta sekamar b'4. Mobil dibawa
Tarje...
Hujan dan sumpah... dinginnya minta ampun!!!! Tidur lengkap pake kaos
kaki, clana panjang, sweater, topi, sarung tangan plus selimut, masih
tembus jg tuh hawa dingin.
1 April
Jam 4 pagi Tarje jemput utk ke Penanjakan. Gerimis... dan kabut tebal
banget. Dan dinginnya dua kali lebih dingin dari terakhir gw ke Bromo.
Nekad deh naik Panther lewat padang pasir ke Penanjakan. Alhamdulillah
selamat sampai Penanjakan. Tapi sayang gak keliatan sunrise sama sekali
krn hujan dan kabut tebal banget. Semuanya putih. Perjalanan kali ini
nunjukin indahnya Bromo ke Ikke malah gak berhasil baik.
Dari Penanjakan, turun ke lautan pasir, trus ke Bromo. Gue, Bayu sama
Tarje tetep di dalam mobil. Tidur :)) balas dendam krn semalem gak bisa
tidur.
Sayang kabut malah makin tebal. Gunung Batok yg cuma beberapa meter di
depan mobil aja nggak keliatan sama sekali. Akhirnya kembali ke hotel,
sarapan, mandi trus tidur.
Jam 11 dijemput Tarje utk makan dirumahnya.
Tarje is a very nice guy. Jujur dan tanpa pamrih. Kita mau kasih uang
krn dia sudah antar kita kesana sini, tapi dia malah bilang "kalau
uangnya aku terima, besok2 mas dan mbak nggak usah datang lagi
kesini".. (ngancam ceritanya).
Dia malah mau bekalin kita semua dgn kentang hasil taninya. Tapi terpaksa kita tolak krn kita naik pesawat.
Nanti deh Je, kalau kita Insya Allah kesitu lagi, kita pasti mau kok.
We'll always return to Bromo...
Back to Surabaya.. sudah malam....
Mandi, makan trus ke Musium Pasopati. Tiket masuk 5000 perak. Musium
Pasopati ini letaknya di dekat Tunjungan, pokoknya sentral-nya
Surabaya. Musium ini sebenarnya adalah kapal selam milik AL yg sudah
dialihfungsikan.
Dari Pasopati, kita jalan kaki ke Zangradi. makan es krim. ini Ragusa-nya Surabaya. Lumayan enak.
Dari Zangradi.. kemana?? kita ke lokalisasi Dolly hahaha.. Penasaran mau liat kayak apa sih Dolly itu.
Waaaaahhh.... ternyata.... kayak begitu tho :))
Kiri kanan penuh dengan mbak2 menor yang menjajakan diri. Ngeliat mereka, jujur jadi kasian banget.
Sempat dipelototin calo2 sana, krn panther kita kacanya bening, dan di dalam ada Ikke pula yang berkerudung hahaha....
tapi seru seru.. jadi nambah pengetahuan :))
Malamnya, late dinner.. bebek goreng.. enduang tenan..
2 April
jam 5, we have to leave to airport. Pesawat jam 6 pagi...
Bye bye Surabaya, Bromo and Malang.. semoga kita bisa kembali kesana lagi soon...
especially Bromo....
Malam Minggu.. dapat ajakan dari mertua nonton Wayang Orang Bharata dgn lakon Limbuk Dadi Ratu J
Pertama-tama sih males banget… lha wong gak doyan nonton wayang orang! Tapi rasa penasaran mengalahkan rasa malas itu. Ini bukan demi ’bakti’ ke mertua lho... Penasaran aja seperti apa sih wayang orang. Seumur-umur belum pernah nonton... ketoprak humor sih sering J
Jam 7 akhirnya berangkat menuju Gedung Wayang Orang Bharata di Senen. Macet! Putar2 lewat Pasar Baru. Ternyata orang Jakarta yg pada malam mingguan banyak banget ya...
Sampai disana sudah lewat setengah sembilan. Beli tiket. Murah.. untuk VIP 20 rb, dibawah itu ada 15 rb kalau nggak salah.
Ooooo ini tho gedung wayang Bharata. Gedung tua yang sudah direnovasi jadi lumayan bagus. Konon katanya yang renovasi adalah para pemain wayang orang itu sendiri dgn bantuan dana sana sini.
Jam sembilan kurang sedikit (nggak ngeliat persisnya jam berapa), pertunjukan dimulai. Lumayan, baris pertama sampai kelima terisi cukup banyak penonton. Tariannya bagus... dan sepertinya ceritanya bagus juga.. Sayang cuma ngerti beberapa kata. Walau orang tua asli Jawa Tengah, tapi tetap aja bahasa ibu ya bahasa gue-elu –nya si Mandra.
Awal2 pertunjukan, makin banyak penonton yang masuk. Agak mengganggu sih karena mereka seringkali bolak balik keluar masuk tempat duduk.
Ajaibnya... si mbak tukang ketoprak dan si mas tukang indomie bolak balik bawa makanan. O alaaaah... mereka nganterin pesanan para penonton... Wah full service... J Gangguan yang lucu.. tapi sekaligus njengkelin.
Ada lagi penonton yang asik ngobrol di tengah2 sambil berdiri.. duuuuh Gusti... kapan ya penonton bisa tertib...Sampai2 ada satu bule yang lagi nonton serius kelihatan kesal campur gregetan J
Jam sebelas... pertunjukan nggak selesai juga! Mata ngantuk, perut laper.. akhirnya ngabur sebentar keluar beli indomie di warung emperan depan terminal senen. Sekali-sekali ngerasain jadi preman malam senen, daripada ganggu orang di dalam gedung pertunjukan dengan bau indomie yang sedap.
Wayang orang.. oh wayang orang... seru juga siiih nontonnya. Apalagi tariannya. Takjub juga lihat pemain2nya yang gemulai dan energik. Sepertinya mereka sudah sangat terlatih. Tapi miris juga begitu tahu kenyataan bahwa mereka hanya dibayar 35 ribu perak sekali pentas... 35 ribu!! Tapi buat mereka, seni adalah dedikasi.. pengorbanan.. 35 ribu tak apa, yang penting batin mereka puas...
Nonton wayang orang yoook......
Berawal dari e-mail HRD yang mengingatkan gue bahwa allowance 'piknik' gue kalau gak diambil per 31 Des ini akan hangus, akhirnya diputuskan gue ma Bayu pergi ke Bali. Dimana tepatnya? UBUD.. tempat ter-favorit.
Sabtu:
Naik Lion, 10:40, Alhamdulillah flight on-time. Tapi sumpeh loe.. gak dapat snack at all, cuma dikasih air mineral. Sampai Bali jam 13:30 langsung disambut Pak Wayan Wijaya dari rental mobil. Rencana awal mau sewa Xenia 150 rb/hari, tapi berhubung sudah dipakai orang, jadi dikasih APV dgn harga sama *lumayan murah*. Lucunya, Pak Wayan ini gak minta jaminan apa pun, jadi langsung kasih kunci gitu aja :))
Krn kelapara, keluar bandara langsung mampir di Restoran Sederhana, By pass. *teteeep masakan Padang*
Abis makan, cabs ke Ubud. Cuaca mendung. Pe Ubud ternyata hujan deras. Gue sebenernya sudah reservasi di Hotel Tegalsari. Hotelnya bagus sih, menghadap sawah dan bangunannya model bungalow gitu. Lumayan murah, utk deluxe 350 rb. (www.tegalsari.com). Tapi Bayu kurang sreg krn ternyata gak ada TV. *dia udah bawa PS-nya, jadi rugi kalo gak ada TV*
Akhirnya dapat di Biyukukung Resort (atas rekomendasi teman sekantor). View-nya sawah dan hotel baru. Cuma ada 10 villa. Begitu keluar teras udah langsung sawah. Dapat deluxe 550 rb. (www.biyukukung.net). Lokasi di belakang Bebek Bengil.
Sayang Sabtu sore itu Ubud diguyur hujan lebat campur angin. Jadi cuma menghabiskan waktu di hotel aja. Malamnya begitu hujan berhenti, kita keluar cari makan. Cari makan di BAli tuh susah-susah enggak. Enggak susah krn banyak banget restoran disana, susahnya.. rata2 ada menu pork. Kita yang muslim jadi agak2 susah. Akhirnya biar aman makan di Pizza Bagus. Enak ternyata, porsi besar tapi lama banget bo!
Abis makan kita cek hotel2 disekitar situ utk referensi. Banyak juga yang bagus2 tapi teteeeeup... pada jual mahal. Apalagi ke turis domestik, ngasih harga tetep Dollar. Padahal tamu yang nginap cuma satu dua orang. Sejak bom bali 2 emang katanya semua tamu pada cancel. Tingkat hunian paling2 cuma 30%. Tapi mbok ya tau gak ada tamu, kenapa juga masih jual mahal ya. *curhat*
Minggu:
Bayu parno krn kamar dan toilet banyak kodok. Ya iya lah, depan sawah. Walo pemandangan dan udara OK banget, tapi tetep aja serangga2 dan kodok suka pada berseliweran.
Akhirnya diputuskan pindah hotel. Pilihannya.. Champlung Sari.. di Jl. Monkey Forest. A very nice hotel, tempat kita hanimun dulu hehe... Dapat kamar lumayan mewah, super deluxe, yang harga awal 1jt sekian, dikasih katanya 'buat langganan', jadi 600 rb :) ya tetep mahal sih tapi worthed sih ngeliat kamarnya yang cukup wah dan bikin betah :) *maunya sih di Komaneka, tapi gaji gue langsung abis kalo gue nginep disana*
Then keliling Ubud. Sempet lihat2 hotel utk referensi di daerah Campuhan-Ubud. Mahal2 bo tapi emang ekslusif banget. Trus Ke Pasar Ubud.. aduuh betah deh gue liat barang2 yang lutju2 itju... Buat yang pada doyan belanja neh...Kalo ke Ps. Ubud jangan cari baju. Beli aja pernak pernik murah meriah ato sandal Bali. Sandal Bali di Ps Ubud lebih murah 5 rb perak dibandingkan di Kuta area. Kalo beli lebih dari 2 kan lumayan.
Dari Ps. Ubud, mampir Sukowati. Belanja oleh2. Mau beli bed cover tapi bingung bawanya gimana. Bayu sih manyun krn gue gak mau stop :)) Info lagi neh buat ibu2 dan mbak2... rata2 penjual disana ngasih harga bed cover 120-130 rb. Tapi kalo jago nawar, 55 rb pun bisa dapat. Apalagi kaos2 Bali gitu, mereka kasih harga 30 rb, tapi kalo beli diatas 3, loe tawar 10 rb juga boleh. Kuncinya... nawar setengah harga! Krn harganya memang sebenernya cuma segitu.
Dari Sukowati, ke Klungkung, sowan sebentar ke rumah sodara. Tadinya mau mampir KertaGoza tapi sudah terlalu sore jadi langsung ke TampakSiring lewat jalur Klungkung-Besakih-Kintamani. Gerimis, tapi perjalanannya tob banget. Pemandangannya bagus banget, dingin dan sepi. Yang pasti kudu mampir utk foto2 di atas DAnau Batur. Bagus banget.
Sampai di Tp Siring, kita ke Pura Tirta Empul. Mata air suci yang keluar dari tanah. Sebelum sembahyang, umat Hindu biasanya mensucikan diri di pancuran2 air yang ada disitu. Baru setelah bersih, sembahyang di pura dalam. Utk masuk ke kolam pemandian dan pura tidak dipungut biaya. Tapi sebelum masuk Pura harus pakai kain dan ikat-nya, ini pun disediakan gratis.
Pura Tirta Empul ini letaknya persis di bawah Istana Tampak Siring. Ada tangga yang menghubungkan Istana dan areal pura, tapi sayang tidak dibuka.
Dari Tirta Empul sebenernya mau mampir di Pura Gunung Kawi. Sudah parkir tapi ternyata harus jalan kaki 500 m lagi ke dalam. Kita kan manja, jadi milih utk pulang aja ke Ubud. Lagian udah gerimis.
Sampai di jalan raya Gianyar-Ubud dekat pasar daerah Bedulu, ada plang kecil bertuliskan "Vila Yeh Puluh". penasaran apa benar ini daerah Yeh Pulu, akhirnya kita nyoba masuk. Jalannya tidak terlalu besar dan agak rusak. Kira2 200 m, sampai juga di loket masuk Yeh Pulu. Tiket utk dewasa 6 rb. Dari loket, harus jalan kaki lewat jalan setapak di tengah sawah menghijau kira2 300m.
Relief Yeh Pulu ini panjangnya sekitar 25 m dan tingginya 2m-an. Isinya menceritakan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Bali sekitar abad 14. Yeh artinya air dan Pulu adalah gentong air. Dulunya relief ini terkubur di bawah tanah dan baru sekitar tahun 1925 digali. Dekat relief ini ada kolam suci. Katanya sih Pulu atau gentong itu adalah gentong yang ditanam oleh Gajah Mada dan dari gentong itu keluar mata air. Konon tidak ada orang yang berhasil mengambil gentong ini.
Oya, kalau dari arah Ubud, Relief Yeh Pulu ini letaknya setelah Goa Gadjah. Gak jauh, kok. Malah bisa jalan kaki dari areal sawah belakang Goa Gadjah ke Yeh Pulu tapi sayang jalurnya samar.
Waktu sudah malam, akhirnya kembali ke hotel. Spent the rest of the day walking at Ubud area. Sepi but nice...
Senin:
Time to pack. Sarapan. Leye2 trus check-out. Mampir ke Tegalalang. Penasaran katanya pernak-pernik disitu murah2. Emang bener. Jadi sepanjang jalan Tegalalang penuh dengan toko2 seni, dari mulai gantungan kunci, sarung bantal, tempat cd, lemari, frame foto, semua utk dekorasi. Murah meriah. Dari 1000 perak pe ratusan ribu. Jalannya menanjak. Makin menanjak, biasanya toko2nya kasih harga makin murah. Paling enak kesini emang khusus utk hunting pernak-pernik rumah, jadi bawa mobil ndiri.
Dari Tegalalang, cabs ke Kuta, jemput temen utk late lunch bareng. Mau ke Rumours - Seminyak, tapi sayang tutup. Akhirnya makan di Warung Made. Masih sisa waktu banyak, mampir ke Joger beli oleh2 trus balik lagi ke Kuta, bengong aja di pantai ngeliatin orang surfing. Sayang hujan turun, akhirnya diputuskan langsung ke airport.
Batavia 19:40, delay hampir 45 menit. Hujan deras. Untung masih dapat snack *tp per 15 Dec. mereka menjual snack, bukan memberikan snack*. Dingiiiin... AC atas gue bolong bow.
Gak rela balik ke Jakarta. Ketemu macet lagi dan polusi.
17-18 September 2005
Waktu Bayu browsing internet, dapat info ada yang ngadain perjalanan ke Pulau Onrust di Pulau Seribu. Namanya KAMA Tour. Ternyata ini 'bisnis'nya anak arkeologi UI. Forward deh ke temen2.. dan akhirnya terkumpul cukup banyak temen2 yang mau join. Ada Tina (teman waktu ke Ujung Genteng); Gadis, Trie and Bagus (teman waktu ke Ujung Kulon), trus temen2 mereka dan juga our fellow Jayuzzzers (Ajenk and Koko).
17 Sept.
Pagi2 udah di sms-in Koko and Gadis. Ternyata mereka udah sampai di Kansas UI dari sebelum jam 8. Padahal kita baru keluar rumah jam 8 :) Toh Pdk. Labu - Depok kan dekat kalau lewat Ciganjur :))
Sampai Kansas, ternyata peserta sudah terkumpul lumayan banyak. Ada pasutri dari Bandung segala. TOB deh.. niat banget :))
Rencana awal meninggalkan UI jam 8:30, molor sampai jam 10an krn menunggu bbrp peserta yg ngaret. Ajenk *as always* nyusahin panitia dengan janjian ketemu di depan STIE Jagakarsa aja.
Lewat tol bandara, keluar Kamal. Ternyata macetnya panjang. Cuaca mendung dan sempat gerimis. Sampai Kamal sudah jam 1-an. Baru pertama kali itu kita menginjakkan kaki ke Muara Kamal. Maaf-maaf aja.. menyedihkan banget. Kotor dan baunya bikin pusing. Bagaimana masyarakat sana mau hidup sehat.. rumah dan lingkungannya sangat tidak higienis! Air lautnya pun bukan air laut lagi.. tapi minyak hitam! Aduh kalau kecebur lumayan tuh...
Dengan dua perahu, kita menuju Pulau Onrust. Perjalanan butuh waktu sekitar 30 menit. Melewati Pulau Kelor tapi gak bisa merapat karena dangkal. Pulaunya kecil banget dan cuma ada satu reruntuhan benteng dan pohon2 kering. Sebenarnya bagus banget untuk foto2. Lebih bagus lagi untuk uji nyali.
Dari Kelor, belok ke Pulau Cipir. Pulau ini dulunya tempat logistik kapal2 para sinyo Belande. Sekarang tinggal reruntuhannya aja. Ada bekas dermaga yang menjorok panjang banget ke laut. Lucunya air laut di sisi kanan dermaga lebih jernih daripada di sisi kiri dermaga. Bisa nyelem2, tapi paling cuma liat bulu babi aja. Dari Pulau Cipir pun bisa juga berenang ke P. Onrust kalo jagoan.
Dari Cipir, langsung ke Onrust, tempat bermalam kita. Tidurnya di bekas dapur. Satu2nya bangunan yang lumayan kayaknya. Yang lainnya cuma ada warung. Airnya? Wiih... mandi 100 x juga bakal tetep lengket. Airnya kuning, krn air payau. Siap2 beli aqua botol gede kalo mau cuci muka.
Onrust... di pulau itu ada makam belanda kuno. Udah rusak, dan menyeramkan. deket situ juga ada satu makam muslim tapi ini makam baru. Bangunan2nya pun rata2 sudah tinggal reruntuhan. Di tengah2 pulau ada Museum Onrust. Lagi lagi... menyeramkan. Tapi waktu itu lumayan banyak juga pengunjung. Ada rombongan pelajar yang berkemah di tengah2 pohon2 yang rindang menyeramkan itu *jagoan*, ada yang pada mancing.
Siangnya setelah berkeliling, manggil anak2 nelayan utk bersihin laut. Itu air laut di dermaga kotornya minta ampun. Dapat berapa karung sampah ya? Semua jenis sampah ada, dari plastik, botol, kayu, sepatu, bekas makanan sampai sofa pun ada. Emang hebat deh orang Indonesia. tempat sampahnya dimana-mana. Lumayan ada anak2 itu.. lautnya jadi bersih, walo airnya tetap hitam. Malamnya kita BBQ ala kadarnya sambil haha hihi.
Besok siangnya packing utk pulang. Udaranya puanasss buanget! Tapi ombak lumayan gede. Dari Onrust, lanjut ke P. Bidadari. Kalo ini sih udah pasti bagus, soalnya ada resort. Masuknya pun bayar. Ke Benteng yang ada di tengah pulau utk foto2. Trus yang paling penting.. MANDI! Akhrinya bisa juga mandi dengan air bersih.
Siang menjelang sore, baru deh dada dada sama pulau2 yang tadi dah dikunjungi. Sampai jumpa lagi...
 | Toraja | Sep 21, '05 11:36 PM for everyone |
10-13 September 2004
Bayu ngajak Dita ke Toraja dan Dita langsung OK.
Mulailah hunting penginapan, tiket murah dan sewa mobil. Sibuk browsing2 internet, akhirnya dapat sewa mobil dari Nell Tours di Makassar. Per hari 350 rb plus makan supir, penginapannya dan bensin - lumayan murah krn Makassar-Toraja cukup jauh.
Berangkat naik Citilink, delay 2 jam :( Yang harusnya sampai Makassar jam 10, baru sampai jam 12 lewat.
Makassar panas!! Kulit rasanya kebakar begitu turun dari pesawat. Langsung kita cari hotel untuk nginap di Makassar (karena rencananya setelah dari TaTor, mau stay semalam di Makassar). Dapat hotel bintang 3 di pantai Losari.
Setelah deal sama pihak hotel, langsung meluncur ke TaTor. Kasihan Pak Basri (nama driver kita-kalo gak salah) sudah cukup lama nunggu kita di bandara. Perjalanan ke Tator lewat Pare-Pare, dan Enrekang.
Di Enrekang, mampir ngopi dulu di rumah makan kecil di pinggir jalan. Hawanya sejuk, dan view-nya ke Gunung Nona. Tadinya gak 'ngeh kenapa gunung (sebenarnya lebih pantas dibilang tebing) itu disebut Gunung Nona. Pak Basri bilang, 'perhatikan deh bentuknya'.. OOOOO pantessss :)) *sensor*
Setelah kurang lebih 6 jam berkendara, akhirnya sekitar jam 9 sampai juga kita di Makale-ibu kota TaTor. Makan ayam goreng dulu di warung nasi. Enak krn perut sudah keroncongan. Hawanya dingin banget.. jauh beda sama Makassar. Eh..di Makale ternyata ada martabak Surabaya lho! Katanya banyak orang Jawa yang jualan di TaTor (memang orang Jawa ada dimana-mana).
Setelah makan, langsung ke Hotel Marannu.
NNGUOOOKK.. NNNGGUUOOOKK... *kayak lagunya film dono kasino indro*
Hotelnya spooky amat! Dan sepi!! Waduh, salah pilih. Ya apa boleh buat, berhubung voucher sudah di tangan, rugi 175 rb kalo gak stay disana. Lagian sudah malam. Krn spooky akhirnya diputuskan kita satu kamar twin bed *sebenernya alasan aja siiih*. Kamarnya lebih ajaib ternyata. Nightmare! Gak bisa tidur, diluar hujan dan dingin banget, kamarnya tidak nyaman.
Bayu gelisah *gak tau krn ada Dita atau kedinginan atau ketakutan*.. yang pasti ngobrolnya gak nyambung.. menclok sana menclok sini. Tiba2 Bayu sholat.. *padahal sudah Isya-Dita jadi tambah bingung*
Pas lagi nonton tivi, tiba2 Bayu nanya "Dek, keberatan gak kalo kita nikah"..
GLEG *keselek krn kaget*.. gak ada PDKT (well, gak tau deh kalo kemarin2 itu dibilang PDKT).. baru kenal 3 bulan.. udah ngajak nikah!!!
Tapi....
Dita said... "Nggak keberatan kok" :))
....APPLAUSE....
Jadilah malam itu gak ada yang bisa tidur. Kenapa? karena mikirin rencana bilang ke ortu masing2.. hahahaha.....
Paginya dengan rasa kantuk yang cukup hebat dan udara yang lumayan dingin.. akhirnya berangkat lah kita keliling Tator.Check out dari hotel spooky itu dan cari hotel lain.
Tempat pertama ke KAMBIRA. Letaknya masih di sekitar Makale. Kambira adalah kuburan bayi yang belum tumbuh gigi di pohon tua. Usia pohonnya sudah ratusan tahun. Jadi pohon tersebut dilubangi dan mayat bayi di taruh dalam posisi duduk di dalamnya lalu lubang ditutup dengan ijuk. Ajaibnya, pohon ini tidak berbau.
Dari Kambira, lanjut ke TAMPANGALO. Kira2 15 menit perjalanan dari Kambira. Tampangalo itu makam tebing. Konon ini tempat raja2 dimakamkan.
Dari Tampangalo, kita ke SUAYA- makam kuno raja2 di gua. Kalau yang ini lumayan spooky. Di gua itu tengkorak2 dan peti mati tersusun rapi.
Dari Suaya, mampir ke LEMO. Makam2 di tebing juga tapi tebingnya berbentuk bulat seperti buah Lemon. Dingiiin dan anginnya kencang.. dan gerimis tapi pemandangannya menakjubkan. Di sekitar tebing itu penuh dengan sawah hijau.
Dari Lemo, langsung menuju RANTEPAO - kota terbesar di Tator. Langsung cari hotel. Dapat di Hotel Indra- lokasinya di tengah kota, di belakang pasar Rantepao. Hotelnya lumayan bagus, dan bersih.. per malam sekitar 250 rb. Sempat tanya, "pakai AC nggak?". Dijawab sama receptionistnya "ini Toraja!".. Bodohnya kita.... :)
Malam2 kelaperan, bosan makan nasi goreng terus dari kemarin, akhirnya keluar jalan kaki ke daerah pertokoan. Ternyata sudah pada tutup, hanya satu dua yang buka. Sempat beli oleh2. Akhirnya dapat satu rumah makan, yang lumayan penuh dengan turis2.. Jauh2 ke Tator, akhirnya makan mie goreng juga. Makanan di Tator lumayan agak susah karena kita muslim. Rata2 restaurannya menyediakan menu yang kita tidak boleh makan.
Pagi2.. grrr.... dingin.. untung ada air panas. Setelah sarapan, langsung ke BORI - kompleks megalitikum. Lokasinya lumayan jauh, sekitar satu jam dari Rantepao. Sebenarnya yang bikin lama tuh kondisi jalanannya yang kecil dan rusak. Tapi pemandangannya OK banget.
Di Bori, ada sekumpulan batu menhir yang dulunya tempat pemujaan. Ada juga makam di batu2. Yang ini masih digunakan terus sampai sekarang. Ada makam yang masih baru juga.
Puas foto2, lanjut ke MARANTE. Makam kuno juga. Ada yang di tebing dan di gua. Tapi yang ini lebih kurang teratur. Tengkorak2nya pada berserakan diluar gua. Kalo gak hati2, bisa keinjak.
Dari Marante, lanjut ke kompleks rumah adat Tana Toraja. Viewnya OK banget. lewat sawah hijau dan bersih...
Setelah keliling dan makan siang, kembali ke hotel untuk istirahat dan check out trus balik ke Makassar. Dalam perjalanan keluar Rantepao, mampir ke LONDA.
Londa itu makam di gua yang masih digunakan sampai sekarang. Ada makam bayi juga. Ada yang usia mayatnya sudah ratusan tahun, ada yang masih baru 3 minggu meninggal. Untuk masuk gua itu, perlu sewa lentera 10 rb. Di dalam gua hawanya dingin. Walau mayat diletakkan begitu aja, tapi gak berbau sama sekali.
Di Londa ada sepasang tengkorak yang katanya pasangan kekasih yang bunuh diri karena gak direstui untuk nikah. Kasihan ya. Juga ada tengkorak yang rambutnya masih utuh. Lucunya, ini tengkorak dikasih 'persembahan'. Dari uang logam, rokok sampai kaca mata hitam!!
Dinding guanya juga seperti stalagtit. Kadang untuk masuk ke ruang tertentu sampai harus merangkak.
Setelah puas, lanjut deh ke Makassar. Mampir makan seafood dulu di Pare-pare sambil numpang sholat. Pak Basri sempat ditanya orang2 situ "Bawa turis Jepang ya. Kok Orang Jepang sholat ya". Hahahaha.. ternyata banyak yang ngira kita orang Jepang. Krn kita berdua sipit x yee :) *padahal gak sipit2 amat sih*
Sampai Makassar sekitar jam 3an.. dan panassss.. Istirahat sebentar sambil cari tiket pesawat pulang, duduk2 sebentar di pantai Losari liat sunset, trus naik becak ke Fort Rotterdam. Ternyata sudah ditutup tapi untung petugasnya memperbolehkan kita masuk. Lihat2 bekas penjaranya Pangeran Diponegoro, tempat uji nyali-nya acara Percaya Nggak Percaya, trus keliling benteng. Spooky abisss...
Dari Fort Rotterdam, jalan kaki ke hotel. Istirahat lagi, sholat dan mandi baru deh duduk2 di Losari. Trus cari cemilan, makan pisang epe (pisang goreng yang dimakan dengan saus gula merah).. Ennnnaaakk.... Tadinya mau makan seafood tapi tempatnya sekarang sudah dipindah ke ujung Losari yang sana. Mau kesana jalannya jauh dan macet. Akhirnya makan bakso aja :))
Tanggal 13 Sept baru deh pulang naik Garuda. Sayang dapat tiket mahal banget sekitar 600 rb per orang, karena kita nggak pesan dari awal.
13 Sept sore sampai deh Jakarta.
Trip x ini gak akan dilupakan :))
Several weeks after trip to Baduy... (tanggalnya lupa)...
Dita, Bayu, Amel, Vera, Harum, Koko dan Iyan jalan2 ke kota tua Batavia.. alias Musium2 di Kota. Ketawa-ketiwi gila-gilaan.. dan akhirnya tercetuslah Yayasan Jayuzzz.. a.k.a Jayan Teyuzzz....
June 3, 2004
Coba2 ngikut trip Nature Trekker ke Kampung Baduy. Ternyata fun banget dan ketemu temen2 baru yang menyenangkan dan gokil... Amel, Vera, Heri, Didiet, Hury, Irma, Iyan, Rama, Koko, Ikke, Galuh, Harum, Aj3nk *nama yang ribet*, Bunda Andi dan Pak Gassie, Rico, Effie. Disini juga niiih Dita kenalan sama Bayu... tapiiii blum ada greget2nya tuuuh....
Kumpul di pelataran parkir Masjid Pondok Indah, then lanjut 3 hari stay di Baduy Luar dan Dalam.
A memorable trip....
| |